Bali,
30 Juni 1999
Orang-orang gaduh dalam keakuan yang
panjang
Sibuk mewartakan banyolan
Sibuk saling menghasut dan menembakkan
peluru
Sibuk mengatakan yang tidak perlu
..dan
aku sibuk menjadi ‘orang-orang’
Belle baru aja meracau
dalam barisan kalimat di buku hariannya yang beberapa
larik kertasnya terlihat kusut karena sering dibolak-balik. Sekadar memuaskan hasrat akan umpatan yang tidak berbunyi. Sesuatu yang cair nan hangat menyusuri mulus
pipinya yang kemerahan dan berlesung tipis. Ya, dia menangis seraya tersenyum
atau menangis sambil tersenyum – menangisi senyum, mensenyumi tangis. Dia telah
menjadi satu dengan emosi atau lebih tepatnya menyatukan emosi. Menangis dan
tersenyum, terisak dan teriak tak lagi
ia lakukan sendiri-sendiri sejak 8 bulan lalu saat ia menemukan mayat kakaknya tergantung di
langit-langit kamar mandi. Titik di mana ia merasa dunianya berubah menjadi
sesuatu yang baru..
Sekian menit
lamanya ia menatap barisan huruf di buku tersebut, ia mengambil sebatang rokok
kretek yang ia selipkan di atas telinga kirinya dan dalam 3 detik, asap
mengepul dari mulutnya. Kabut-kabut cantik tersebut meluncur dari mulutnya yang
bukan lagi seorang perokok pemula. Perlahan lelehan air mata di pipinya mengering seirama dengan kabut di depan
mukanya yang semakin menipis. Ada kelegaan tersendiri setiap ia selesai
merenung, menulis, menangis dan
mengasapi bibir.
Belle menggerai
ikatan rambutnya dan menyambar handuk di salah satu sudut kamarnya sebelum ia
melanjutkan nyanyian panjangnya mengenai ‘kedalaman’ di kamar mandi.
Bukan hal baru
bagi Belle untuk dianggap aneh oleh orang-orang di sekelilingnya. Bahkan ada
yang menyebutnya sakit jiwa karena kebiasaannya melamun dan menatap kosong di
tempat umum , hanya saja dari segi
penampilan ia masih terlihat wajar. Beberapa masih berbaik hati
menjulukinya ‘nyentrik’, ah penghalusan kata saja pikirnya. Tapi dia tidak
terlalu memikirkan stigma itu karena dunianya benar-benar telah berubah sejak
rentetan kejadian menekan batinnya. Dari si manis yang ceria menjadi pelamun
yang susah diajak bicara.
Kematian ibunya saat
ia masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Ayah yang bekerja di luar
negeri. Tak kurang dari itu, kematian kakaknya karena bunuh diri sukses menjadi
rangkaian kejadian yang mempermainkan emosinya. Belle muda yang secara
psikologis masih labil harus melewati semua itu seorang diri karena sang ayah sangat jarang pulang ke rumah. Belle tidak tahu mengapa itu
semua harus menimpanya. Apa yang salah dengan seorang gadis belia beraroma
manis ini?
Belle berubah
menjadi pemurung yang selalu skeptis menghadapi setiap kejadian. Ia tumbuh
menjadi gadis pemberontak yang suka menentang
aturan jika ia rasa itu tidak adil. Ia tidak suka dikekang dan mulai mengasingkan diri dari pergaulan. Hobinya
berjalan-jalan seorang diri di pinggir pantai setiap sore hingga lepas isya
mengenakan kaca mata gelap, sukses membutnya dianggap aneh oleh orang lain.
Di kampusnya
pun ia dijuluki aneh. Hobinya duduk menyendiri di bangku kelas paling pojok dan
minimnya kata-kata yang keluar dari mulutnya terkadang membuat beberapa mahasiswa lain yang sedang
begerombol mempergunjingkannya.
Sebenarnya ia tergolong mahasiswa yang aktif dan berinteligensi tinggi,
tapi itu tak berarti apa-apa lagi kini.
Sekalipun dari
segi finansial ia tergolong mampu karena pekerjaan sang ayah sebagai pengusaha
di Belanda tak pernah absen memberinya kepuasan materi, ia tetap tak bahagia. Beruntung ia masih memiliki seorang asisten rumah tangga yang setia
membantu mengurus keperluannya di rumah.
_____________________________________________________________________
Sabtu pagi, Belle terbangun dengan mimpi buruk.
Seperti biasa, tidak ada yang lebih lazim menemani sisa malamnya kecuali
mimpi-mimpi jalang. Dia tidak sadar bahwa itu adalah representasi alam bawah
sadarnya yang tragis.
Diliriknya jam di dinding, masih pukul 5. Ia berjalan
menuju jendela setelah sebelumnya mengambil sebatang rokok di atas meja,
membukanya dan duduk disampingnya. Hawa dingin menyusup ke pori-pori kulitnya
yang terbungkus baju tidur berbahan satin. Belle kembali melamun, kali ini ia
melamunkan mimpinya semalam. Seekor singa jantan menjadi lakon yang mengejarnya
dengan marah. Belle berlari kencang dengan histeris tapi ketika sang lakon yang
larinya lebih kencang hampir menerkamnya, Belle seketika terbangun.
Belle sadar dari
lamunannya saat kepulan asap di depan mukanya mulai menipis. Dibuangnya puntung
rokok itu dengan sembrono keluar jendela lalu mengambil handuk dan berjalan ke
kamar mandi.
Keluar dari kamar mandi
ia mematut wajah sejenak di depan cermin dan mencoba tersenyum; tidak terlalu
buruk, pikirnya. Ada sedikit harapan baik di hatinya. Berharap ada kejadian
menarik yang akan mengembangkan senyum tulusnya hari ini; tanpa setetes air
mata.
Selesai berdandan dan
berdamai dengan hati, Belle mengambil kunci mobil di loker mejanya dan turun
menyusuri anak tangga. Ketika melewati meja makan ia melihat Maria,
pembantunya, berdiri di samping meja. Di atasnya tersedia menu sarapan. Belle menatap
perempuan paruh baya itu dengan tersenyum. “Maria, aku tak sarapan pagi ini.
Buat kau saja ya?”, ucapnya seraya ngeloyor pergi begitu saja, tak menghiraukan
tatapan bengong pembantunya. Akan kemana dia hari ini?.
_____________________________________________________________________
Belle memarkirkan
mobilnya di samping salah satu taman favoritnya dan setelah itu berjalan-jalan
menikmati keindahan pemandangan yang terhampar di hadapannya. Letih
berjalan-jalan, ia duduk di salah satu bangku kayu panjang bercat hitam. Di
atasnya ada pohon beringin rindang yang ampuh memayungi tubuhnya dari sengatan
matahari. Sekelompok anak kecil bermain-main di hadapannya. Mereka bermain
kejar-kejaran, petak umpet, lompat tali, dan sebagainya. Tanpa rencana, senyum
tulusnya terkembang. Doanya terkabul.
“Childhood is the most
beautiful of all life seasons”.
Belle terhenyak namun tak lekas mencari tahu sumber
suara yang mengagetkannya tersebut. Di keningnya ada kerutan tipis pertanda ia
menghiraukan perkataan itu. Siapa orang yang barusan mampu melontarkan kalimat
sama persis dengan yang sedang dikatakannya dalam hati?.
“Aku Zachranca”, lanjut
suara itu, lancang memperkenalkan namanya tanpa diminta. Suara laki-laki.
“Belle”, jawab Belle
singkat, masih dengan tak menoleh barang sesenti pun namun bola matanya mulai
mengerling mencari sumber suara tersebut.
Semenit, dua menit
suara itu tak terdengar lagi. Tanpa sadar Belle merindukan suara lancang itu
lagi. Diliriknya sisi kanan tubuhnya. Seorang laki-laki berperawakan tinggi,
berkostum serba hitam tengah asyik memandangi anak-anak di hadapannya. Belle
memperkirakan usia laki-laki tersebut sekitar tujuh/delapan tahun di atasnya
yang kini berusia 21 tahun. Belle tidak tahu kapan laki-laki itu datang dan
bagaimana bisa tiba-tiba laki-laki tersebut sudah berada di sampingnya. Sadar
dipandangi, laki-laki tersebut menoleh padanya. Bola mata hitam pekatnya
bertemu dengan bola mata Belle yang berwarna cokelat muda. Sontak Belle
tercekat. Dia tidak pernah bertatapan dengan orang asing sedekat itu
sebelumnya. Mukanya memerah lantaran laki-laki itu tak segera melepaskan
tatapannya. Bukan apa-apa, sorot mata itu membuat Belle merasa ditelanjangi dan
ada sedikit ketakutan akan terbongkarnya isi pikirannya selama ini. Orang asing
yang patut diwaspadai, pikirnya.
Siapa sangka, otak
Belle yang terprogam untuk mengabaikan orang lain termasuk yang baru dikenalnya
hampir tak bekerja pada laki-laki di sampingnya. Orang asing di sampingnya
terlalu cuek dengan reaksi Belle yang juga cuek. Mereka saling diam untuk waktu
yang lama. Hingga akhirnya bibir Belle kembali terbuka untuk mengajak bicara
Zachranca. Belle menyerah untuk pura-pura tidak peduli. Dia selama ini merasa
baik-baik saja tidak berbicara dengan orang lain tapi kali ini ia tak mampu
membendung emosinya untuk memulai sebuah konversasi. Ada semacam kebutuhan yang
menolak untuk diabaikan dan Belle tidak tahu itu apa, setidaknya untuk saat
ini.
Zach, panggilan akrab
Zachranca, ternyata adalah orang yang cukup ramah, komunikatif, namun tetap
terkontrol. Sorot matanya yang teduh nan tajam Belle bandingkan dengan aktor
lawas Hollywood yang dahulu sering ia tempel posternya di dinding kamar, James
Dean. Mereka berdua larut akan percakapan tentang dunia kanak-kanak yang mereka
bandingkan dengan dunia mereka sekarang. Hanya dalam hitungan menit Belle sudah
merasa nyaman dan untuk kali pertamanya ia mampu membuka konversasi panjang dengan
orang lain setelah 8 bulan yang kelam.
Tak kurang 2 jam mereka
bercakap-cakap, Belle menyadari kini ia bisa benar-benar tertawa lepas tanpa
beban. Ada air mata yang menitik di sana, di sudut mata Belle. Kali ini air
mata kebahagiaan yang tak tertawar cantiknya. Zach terdiam sejenak, memberi waktu
pada Belle untuk menikmati luapan emosinya.
“Kenapa diam?”, Tanya
Belle.
“Kau tertawa sampai mengeluarkan air mata. Aku tahu
kau sangat senang bertemu dengan orang sekeren aku hingga tak dapat membendung
emosimu sendiri.”, jawab Zach dengan cuek.
“Kau ini apa-apaan. Orang baru sudah berani sok keren
di depanku. Kau belum tahu seperti apa aku sebenarnya”, kilah Belle dengan
masih terkekeh kecil.
“Kau yakin?!”. Zach yang semula sedang menatap ke
depan spontan dengan mimik serius memutar kepalanya 180 derajat ke kiri.
Pandangan mereka bertemu lagi. Tapi Belle lebih bisa menguasai gerak-geriknya
kali ini.
“Oke, kau ini konyol orangnya. Dari tadi aku aku
memperhatikanmu dan aku membandingkan kau dengan anak-anak kecil di hadapan
kita, ah kalian sama-sama lucu”.
Belle melanjutkan tawanya yang sempat terpotong karena
harus menjawab pertanyaan Zach. Alih-alih ikut tertawa, Zach justru semakin
mempertegas mimik seriusnya dan itu membuat tawa Belle semakin lama semakin
terdengar garing.
Belle mengerti. Ia menyandarkan tubuhnya dengan rileks
ke sandaran kursi, memejamkan mata, menarik nafas dalam, dan menghembuskannya
dengan berat. Ia membuka matanya lagi dan balik menatap Zach dengan raut
santai.
“Aku ingin mengenalkanmu pada seseorang. Tapi aku tak
tahu, aku bisa melakukannya atau tidak”. Ada sesuatu yang terdengar menggantung
dari nada bicara Belle, dan pupil matanya yang sedari tadi memuai kini kembali
menyusut.
Zach mengedipkan matanya sebagai dukungan bagi Belle
untuk melanjutkan kata-katanya.
Belle tersenyum. “Namanya Adam. Dia adalah kakak
laki-lakiku satu-satunya. Dan kau, Zach. Betapa aku ingin memanggilmu ‘Adam’”.
Maka dimulailah cerita Belle tentang kakaknya, Adam.
Satu-satunya kakak yang dobel fungsi sebagai sahabat bagi Belle setelah
kematian ibunya dan kejenuhan Belle terhadap ayahnya. Belle tidak mengerti
mengapa ia bisa seterbuka itu pada Zach, tapi toh ia tak menyesalinya, kalimat
demi kalimat itu meluncur begitu saja dan ia sadar telah mengatakannya.
Belle yang tadi terlibat dalam komunikasi emosional
beraroma manis tentang kenangan masa kecil dan hal-hal positif yang
melingkarinya, kini merasa dihempaskan ke ubin yang keras saat ia harus membuka
ceritanya mengenai kepahitan hidupnya. Benar-benar turning point yang menguras
emosi, batinnya.
Belle merasa baik-baik saja setelah menceritakan semua
itu pada Zach. Dia bahkan tak pernah berniat berkunjung ke psikolog atau
terapis, tapi pada Zach ia merasa tersihir habis-habisan. Ada dua rasa
berlawanan yang menyelimuti perasaan Belle saat menatap Zach yang ia
banding-bandingkan dengan Adam. Perasaan senang dan muak beradu jadi satu.
‘Biarlah, aku menikmatinya. Tak ada gunanya
pilih-pilih emosi. Tuhan sudah terlalu baik hati mengirimiku Adam dalam versi
berbeda’, ucapnya dalam hati. Kali ini ia tak takut lagi kecolongan isi pikiran
oleh Zach.
Belle memilih merdeka. Memilih untuk menikmati kedua
rasa itu secara adil.
“Terimakasih, Zach”..
Tak habis-habisnya Belle menggumamkan kalimat itu
berulang kali usai pertemuannya dengan Zach kala itu. Di rumah, di kampus, di
kerumunan, di kesendirian, di semua tempat dan situasi. Ajaib! Hari-harinya
berubah riang, sudah sangat jarang menangis dan mengumpat dalam hati. Bahkan
mimpi-mimpi buruk itu tak pernah lagi menghampiri tidurnya, berganti dengan
mimpi-mimpi indah.
Tapi Belle tetaplah Belle yang emosinya masih kerap
pasang-surut. Ada kalanya ia merasa high end dan low end. Menikmati
kehadiran Zach yang ia asosiasikan dengan Adam, berarti pula ia harus menerima
konsekuensinya akan pilihan untuk ‘Merdeka’.
Sejak pertemuan pertama di taman itu, Belle memang
lama tak bertemu Zach kembali. Bahkan saat ia berkunjung ke sana lagi sekedar
untuk melampiaskan rasa rindunya pada Zach (bukan lagi mencari tempat melamun),
Zach justru tidak datang.
Belle merasa bodoh saat itu tak bertukar alamat dengan
Zach. Ia terlalu bahagia. Satu-satunya benda yang mampu mengobati kerinduan
Belle pada Zach adalah topi bowler warna merah hati milik Zach yang Zach
letakkan di atas kepala Belle setelah sebelumnya ia membuat onar dengan
mengacak-acak rambut Belle. Senyum mafhum Zach masih terasa hangat di ingatan
Belle saat topi itu diletakkan di atas kepalanya.
Hari berganti hari hingga menginjak hari ke 13 sejak
pertemuan pertama mereka. Kerinduan Belle terhadap Zach sudah tak terbendung
lagi. Ia rindu akan gaya cerita Zach yang memukau, pada gaya tengil Zach saat
memeragakan akting seorang bintang film papan atas, pada sorot matanya tajam
dan berbinar-binar saat berbicara, dan pada banyak hal lainnya. Sifat dan
pembawaan Zach benar-benar mirip dengan Adam, kakak yang dengan teganya
meninggalkan Belle dengan cara bunuh diri, padahal sebelum itu Adam sama sekali
tak terlihat memiliki masalah apa-apa.
Tanpa ada firasat apa-apa, Belle yang hari ini kembali
menikmati bacaan fiksinya di taman yang sama seperti saat ia bertemu dengan
Zach, kaget setengah mati saat di sampingnya mendadak terdengar sebuah suara
berat bersenandung dengan nada fals. Ah, suara si tengil, pikirnya. Belle
menoleh dan dugaannya memang tidak salah. Dia tidak seperti manusia pada
umumnya. Datangnya tak pernah diketahui.
Belle mengembangkan hidung dan menggigit bibir
bawahnya pertanda geregetan dan kaget yang bercampur jadi satu. Zach yang
merasa diperhatikan, dengan gaya cueknya, menirukan gaya bos berupa duduk
dengan kaki kanan ditumpangkan diatas kaki kiri, tangan kiri terjulur di atas
sandaran kursi dan sesekali bersiul-siul. Merasa tak diperhatikan, Belle
pura-pura kesal. Ditendangnya kaki kiri Zach. Masih dengan gaya cuek, Zach
memelorotkan sedikit kaca mata hitamnya,
melirik Belle kemudian menaikannya lagi dan kembali bersiul-siul. Itulah
pertemuan kedua mereka, di tempat yang sama. Dan lagi, tawa yang sama kembali
membahana saat mereka memulai konversasi. Belle merasa hari-harinya benar-benar baru!.
Sejak dua kali pertemuan itu, mereka semakin akrab dan
kerap menghabiskan waktu bersama. Tak hanya di taman. Hampir semua tempat
favorit Belle mereka kunjungi. Tak jarang beberapa kali Zach datang ke rumah
Belle dan Belle menyambutnya dengan suka hati.
Zach tak pernah menyebut alamat tinggalnya dan
kemunculannya pun selalu tiba-tiba.
Hanya nomor telepon yang Zach tinggalkan. Kapan Belle membutuhkan Zach, ia tinggal menghubunginnya dan Zach
segera datang. Zach memang misterius namun itu tak Belle permasalahkan.
Di luar pemahaman Belle, beberapa pasang mata
mulai intens memperhatikannya saat ia
bersama Zach. Tak terkecuali Maria, pembantunya yang kerap menyaksikan
kedatangan Zach ke rumah. Belle tidak peduli. Ia pikir orang-orang hanya heran melihat
Belle kini memiliki sahabat.
Belle merasa baik-baik saja dan kebersamaannya dengan
Zach kini telah menginjak bulan ke lima. Semua terasa sempurna hingga pada
suatu sore, seorang teman perempuan mendatangi Belle yang kala itu sedang
bersantai di kamar, menikmati hujan dari balik jendela seraya menghisap
sebatang rokok.
Belle cuek menanggapi kedatangan perempuan itu kendati mereka
pernah bersahabat karena Belle benar-benar peduli pada Zach
saja.
Sesuai perkiraan Belle, perempuan itu datang untuk berbasa-basi menanyakan kabarnya, seperti kebanyakan orang yang
kadang berkunjung ke rumahnya. Otak Belle benar-benar terprogram untuk
mengabaikan orang lain dan menganggap semua orang itu sama seperti pikirannya selama ini,
melapisi muka dengan topeng tebal dan hobi saling tikam. Ia tak mampu lagi
membedakan mana hitam mana putih, dan
tentu hal itu tidak berlaku pada Zach.
Perempuan itu akhirnya menanyakan sosok yang sering
dibawa Belle kemana-mana. Belle
mengerutkan kening saat perempuan itu bertanya, “Maaf, apa kau tak apa
saat di tempat umum berbicara seorang diri atau kau sedang ikut pelatian
teater?”
Pertanyaan itu
sontak menaikkan denyut nadi Belle. Bagaimana mungkin seseorang bisa tak
mengakui keberadaan Zach?!. Dia gila!, murka Belle seraya berusaha menampilkan
emosi yang datar.
“Apa maksudmu
bertanya seperti itu?”, Belle membalikkan pertanyaan dengan nada dingin.
Dan dimulailah
dialog menegangkan antara Belle dengan perempuan itu. Percaakapan yang semula berjalan mulus berubah
menjadi sengit. Belle tidak tahu maksud perempuan
itu mencampuri urusannya. Paling tidak jika ia merasa benar dan Belle salah,
akan lebih fair untuk ikut campur,pikir Belle.
Percakapan yang cukup membuat Belle merasa diberi label
‘gangguan jiwa’ itu berakhir dengan teriakan usiran dari Belle saat si
perempuan mengajak Belle memeriksakan
kondisi kejiwaannya.
‘Konyol sekali, aku dinggap tidak waras dan Zach hanya
halusinasiku saja. Tidak tahu sopan santun!’, rutuk Belle dalam hati saat si
perempuan pergi.
Setelah hari pertengkarannya tersebut, Belle menjadi
sedikit pemurung lagi. Ia berusaha tidak memikirkan hal itu lagi tapi tk mampu. Zach pun sejak saat
itu belum pernah mengunjunginya kembali,
saat ditelepon tak diangkat. Belle
menjadi frustasi. Takut jika apa yang dikatakan perempuan itu benar.
Mimpi-mimpi buruk menemuinya lagi
2 minggu
kemudian, perempuan itu datang lagi.
Kali ini ia tidak sediri tetapi bersama satu orang laki-laki yang dikenal Belle
sebagai temannya dan 2 orang laki-laki lain berseragam putih-putih khas orang
medis. Di belakang orang-orang itu, perlahan
menyembul wajah Maria dengan raut
ketakutan. Belle melotot tajam.
“Maaf
non, saya tadi sudah melarang mereka masuk, tapi mereka memaksa”, aku Maria dengan
kaki gemetar.
Belle beralih
menatap tajam pada si perempuan.
“Apa yang
membuatmu tergoda untuk kembali membuat onar di rumahku? Setan jenis apa kau
hingga dengan lancangnya membawa orang-orangmu ke sini?!”. Gigi Belle bergemelatuk saat mengucapkanya.
“Aku adalah
orang yang diperintahkan ayahmu untuk mengawasimu. Segala kebiasaanmu kulaporkan padanya dan saat ia tahu kau seperti ini, ia langsung
meemerintahku untuk membawamu ke ahli jiwa. Aku tidak semerta-merta
melakukannya, butuh waktu berbulan-bulan untuk mengawasi gerak-gerikmu. Aku
hanya menjalankan amanat”, jawab
perempuan itu. Dingin.
“Kalau begitu,
kenapa bukan dia saja yang kemari untuk menyeretku ke rumah sakit jiwa?!”.
Amarah Belle
berkecamuk. Matanya basah. Ada perasaan benci, merasa tidak dihargai oleh
ayahnya. Saat seperti ini pun ayahnya lebih mementingkan pekerjaannya ketimbang
Belle.
Tanpa menyahut
apa-apa lagi, si perempuan
memerintahkan 2 orang berseragam medis menyeret Belle. Belle meronta. Berteriak
meminta tolong pada Maria, tapi apalah
daya perempuan paruh baya itu melawan 2
orang laki-laki dewasa.
Perhelatan sore
itu menyisakan perih yang nanar di hati Belle. Ia akhirnya pasrah saat
dimasukkan ke dalam mobil bertuliskan
‘Rumah Sakit Jiwa Bangli’. Matanya yang sembab masih sempat menatap
pintu gerbang rumahnya. Di mana Zach?!
Belle membuka
matanya perlahan. Yang ia dapati pertama
kali adalah ruang sempit berukuran 2x3
dengan sebuah meja-kursi, sebuah almari kecil, dan seperangkat alat
tidur yang masih dikenakannya. Dengan
memegangi kepalanya yang pening, Belle
mencoba duduk. Mengingat-ingat hal apa yang terjadi semalam dan mencari tahu di tempat mana kiranyaia
sekarang.
Sejenak
terdiam, Belle akhirnya paham situasi. Ya, dia dijebloskan ke Rumah Sakit Jiwa.
Ia kembali memejamkan mata, mencoba untuk tidak
memikirkan apa-apa lagi.
Hari-hari yang sulit harus
dilalui Belle seorang diri. Tidak ada Maria, tidak ada gadget, tidak ada
batangan rokok, tidak ada taman favorit, dan tentu saja tidak ada Zach. Batang
hidung laki-laki itu sama sekali tak terlihat di mata Belle selama di rumah
sakit.
1 bulan
berlalu. Lambat laun Belle mulai mempercayai bahwa dirinya sendiri gila dan
Zach hanyalah halusinasinya yang kelewat rindu pada sosok kakaknya. Hal itu
dikuatkan dengan hadirnya seorang terapis dan injeksi beruntun yang diterimanya
hampir setiap hari. Absennya Zach membuat Belle semakin frustasi. Ia pikir,
jika benar dirinya gila dan sosok Zach
tidak pernah ada maka tak ada yang lebih baik kecuali ‘menjadi gila’ selamanya.
Belle
melilitkan seutas tambang di langit-langit kamar membentuk sebuah simpul
menggantung yang biasadilihatnya pada tayangan televisi tentang ‘akhir usia
seorang pesakitan’. Ia cukup terampil membuatnya karena ingatannya akan episode
kematian kakaknya masih membekas di ingatan.
Dengan gemetar
ia memasukkan kepalanya ke ujung simpul yang ia buat. Sekali dua kali ia mngurungkan niatnya, ada bayang
ketakutan dimatanya. Air matanya mengalir
lagi. Puas menangis, tekadnya untuk bunuh diri membulat. Ia memasukkan
kepalanya perlahan seraya memejam dan dengan kuat menendang kursi penyangg
tubuhnya.
Belle merasakan
sensasi sakit tak terperi. Lehernya yang terjerat sontak membuat tangan dan kakinya
kejang. Pada detik-detik terakhir hayatnya, dengan lidah menjulur dan mata
melotot ia tak sengaja menyaksikan sosok Zach duduk di atas atas ranjang,
terdiam dan menatapnya kosong..
END
Yogyakarta,
08 Juni 2015. 01.02 WIB
bagus bangettt Sayy
BalasHapus