Minggu, 07 Juni 2015

DUNIA BELLE




Bali, 30  Juni 1999
Orang-orang gaduh dalam keakuan yang panjang
Sibuk mewartakan banyolan
Sibuk saling menghasut dan menembakkan peluru
Sibuk mengatakan yang tidak perlu
..dan aku sibuk menjadi ‘orang-orang’ 

Belle baru aja meracau dalam barisan kalimat di buku hariannya  yang beberapa larik kertasnya terlihat kusut karena sering dibolak-balik. Sekadar memuaskan hasrat akan umpatan yang tidak berbunyi.  Sesuatu yang cair nan hangat menyusuri mulus pipinya yang kemerahan dan berlesung tipis. Ya, dia menangis seraya tersenyum atau menangis sambil tersenyum – menangisi senyum, mensenyumi tangis. Dia telah menjadi satu dengan emosi atau lebih tepatnya menyatukan emosi. Menangis dan tersenyum, terisak dan  teriak tak lagi ia lakukan sendiri-sendiri sejak 8 bulan lalu saat  ia menemukan mayat kakaknya tergantung di langit-langit kamar mandi. Titik di mana ia merasa dunianya berubah menjadi sesuatu yang baru..
Sekian menit lamanya ia menatap barisan huruf di buku tersebut, ia mengambil sebatang rokok kretek yang ia selipkan di atas telinga kirinya dan dalam 3 detik, asap mengepul dari mulutnya. Kabut-kabut cantik tersebut meluncur dari mulutnya yang bukan lagi seorang perokok pemula. Perlahan lelehan air mata  di pipinya mengering seirama dengan kabut di depan mukanya yang semakin menipis. Ada kelegaan tersendiri setiap ia selesai merenung, menulis, menangis  dan mengasapi bibir.
Belle menggerai ikatan rambutnya dan menyambar handuk di salah satu sudut kamarnya sebelum ia melanjutkan nyanyian panjangnya mengenai ‘kedalaman’ di kamar mandi.
 

Bukan hal baru bagi Belle untuk dianggap aneh oleh orang-orang di sekelilingnya. Bahkan ada yang menyebutnya sakit jiwa karena kebiasaannya melamun dan menatap kosong di tempat umum , hanya saja dari segi  penampilan ia masih terlihat wajar. Beberapa masih berbaik hati menjulukinya ‘nyentrik’, ah penghalusan kata saja pikirnya. Tapi dia tidak terlalu memikirkan stigma itu karena dunianya benar-benar telah berubah sejak rentetan kejadian menekan batinnya. Dari si manis yang ceria menjadi pelamun yang susah diajak bicara.
Kematian ibunya saat ia masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Ayah yang bekerja di luar negeri. Tak kurang dari itu, kematian kakaknya karena bunuh diri sukses menjadi rangkaian kejadian yang mempermainkan emosinya. Belle muda yang secara psikologis masih labil harus melewati semua itu seorang  diri karena sang ayah sangat jarang  pulang ke rumah. Belle tidak tahu mengapa itu semua harus menimpanya. Apa yang salah dengan seorang gadis belia beraroma manis ini?
Belle berubah menjadi pemurung yang selalu skeptis menghadapi setiap kejadian. Ia tumbuh menjadi gadis pemberontak yang suka menentang  aturan jika ia rasa itu tidak adil. Ia tidak suka dikekang dan mulai mengasingkan diri dari pergaulan. Hobinya berjalan-jalan seorang diri di pinggir pantai setiap sore hingga lepas isya mengenakan kaca mata gelap, sukses membutnya dianggap aneh oleh orang lain.
Di kampusnya pun ia dijuluki aneh. Hobinya duduk menyendiri di bangku kelas paling pojok dan minimnya kata-kata yang keluar dari mulutnya terkadang  membuat beberapa mahasiswa lain yang sedang begerombol mempergunjingkannya.  Sebenarnya ia tergolong mahasiswa yang aktif dan berinteligensi tinggi, tapi itu tak berarti apa-apa lagi kini.
Sekalipun dari segi finansial ia tergolong mampu karena pekerjaan sang ayah sebagai pengusaha di Belanda tak pernah absen memberinya kepuasan materi, ia tetap tak bahagia. Beruntung ia masih memiliki seorang asisten rumah tangga yang setia membantu mengurus keperluannya di rumah.
_____________________________________________________________________

Sabtu pagi, Belle terbangun dengan mimpi buruk. Seperti biasa, tidak ada yang lebih lazim menemani sisa malamnya kecuali mimpi-mimpi jalang. Dia tidak sadar bahwa itu adalah representasi alam bawah sadarnya yang tragis.
Diliriknya jam di dinding, masih pukul 5. Ia berjalan menuju jendela setelah sebelumnya mengambil sebatang rokok di atas meja, membukanya dan duduk disampingnya. Hawa dingin menyusup ke pori-pori kulitnya yang terbungkus baju tidur berbahan satin. Belle kembali melamun, kali ini ia melamunkan mimpinya semalam. Seekor singa jantan menjadi lakon yang mengejarnya dengan marah. Belle berlari kencang dengan histeris tapi ketika sang lakon yang larinya lebih kencang hampir menerkamnya, Belle seketika terbangun.
            Belle sadar dari lamunannya saat kepulan asap di depan mukanya mulai menipis. Dibuangnya puntung rokok itu dengan sembrono keluar jendela lalu mengambil handuk dan berjalan ke kamar mandi.
            Keluar dari kamar mandi ia mematut wajah sejenak di depan cermin dan mencoba tersenyum; tidak terlalu buruk, pikirnya. Ada sedikit harapan baik di hatinya. Berharap ada kejadian menarik yang akan mengembangkan senyum tulusnya hari ini; tanpa setetes air mata.
            Selesai berdandan dan berdamai dengan hati, Belle mengambil kunci mobil di loker mejanya dan turun menyusuri anak tangga. Ketika melewati meja makan ia melihat Maria, pembantunya, berdiri di samping meja. Di atasnya tersedia menu sarapan. Belle menatap perempuan paruh baya itu dengan tersenyum. “Maria, aku tak sarapan pagi ini. Buat kau saja ya?”, ucapnya seraya ngeloyor pergi begitu saja, tak menghiraukan tatapan bengong pembantunya. Akan kemana dia hari ini?.
_____________________________________________________________________
            Belle memarkirkan mobilnya di samping salah satu taman favoritnya dan setelah itu berjalan-jalan menikmati keindahan pemandangan yang terhampar di hadapannya. Letih berjalan-jalan, ia duduk di salah satu bangku kayu panjang bercat hitam. Di atasnya ada pohon beringin rindang yang ampuh memayungi tubuhnya dari sengatan matahari. Sekelompok anak kecil bermain-main di hadapannya. Mereka bermain kejar-kejaran, petak umpet, lompat tali, dan sebagainya. Tanpa rencana, senyum tulusnya terkembang. Doanya terkabul.
            “Childhood is the most beautiful of all life seasons”.
Belle terhenyak namun tak lekas mencari tahu sumber suara yang mengagetkannya tersebut. Di keningnya ada kerutan tipis pertanda ia menghiraukan perkataan itu. Siapa orang yang barusan mampu melontarkan kalimat sama persis dengan yang sedang dikatakannya dalam hati?.
            “Aku Zachranca”, lanjut suara itu, lancang memperkenalkan namanya tanpa diminta. Suara laki-laki.
            “Belle”, jawab Belle singkat, masih dengan tak menoleh barang sesenti pun namun bola matanya mulai mengerling mencari sumber suara tersebut.
            Semenit, dua menit suara itu tak terdengar lagi. Tanpa sadar Belle merindukan suara lancang itu lagi. Diliriknya sisi kanan tubuhnya. Seorang laki-laki berperawakan tinggi, berkostum serba hitam tengah asyik memandangi anak-anak di hadapannya. Belle memperkirakan usia laki-laki tersebut sekitar tujuh/delapan tahun di atasnya yang kini berusia 21 tahun. Belle tidak tahu kapan laki-laki itu datang dan bagaimana bisa tiba-tiba laki-laki tersebut sudah berada di sampingnya. Sadar dipandangi, laki-laki tersebut menoleh padanya. Bola mata hitam pekatnya bertemu dengan bola mata Belle yang berwarna cokelat muda. Sontak Belle tercekat. Dia tidak pernah bertatapan dengan orang asing sedekat itu sebelumnya. Mukanya memerah lantaran laki-laki itu tak segera melepaskan tatapannya. Bukan apa-apa, sorot mata itu membuat Belle merasa ditelanjangi dan ada sedikit ketakutan akan terbongkarnya isi pikirannya selama ini. Orang asing yang patut diwaspadai, pikirnya.
            Siapa sangka, otak Belle yang terprogam untuk mengabaikan orang lain termasuk yang baru dikenalnya hampir tak bekerja pada laki-laki di sampingnya. Orang asing di sampingnya terlalu cuek dengan reaksi Belle yang juga cuek. Mereka saling diam untuk waktu yang lama. Hingga akhirnya bibir Belle kembali terbuka untuk mengajak bicara Zachranca. Belle menyerah untuk pura-pura tidak peduli. Dia selama ini merasa baik-baik saja tidak berbicara dengan orang lain tapi kali ini ia tak mampu membendung emosinya untuk memulai sebuah konversasi. Ada semacam kebutuhan yang menolak untuk diabaikan dan Belle tidak tahu itu apa, setidaknya untuk saat ini.
            Zach, panggilan akrab Zachranca, ternyata adalah orang yang cukup ramah, komunikatif, namun tetap terkontrol. Sorot matanya yang teduh nan tajam Belle bandingkan dengan aktor lawas Hollywood yang dahulu sering ia tempel posternya di dinding kamar, James Dean. Mereka berdua larut akan percakapan tentang dunia kanak-kanak yang mereka bandingkan dengan dunia mereka sekarang. Hanya dalam hitungan menit Belle sudah merasa nyaman dan untuk kali pertamanya ia mampu membuka konversasi panjang dengan orang lain setelah 8 bulan yang kelam.
            Tak kurang 2 jam mereka bercakap-cakap, Belle menyadari kini ia bisa benar-benar tertawa lepas tanpa beban. Ada air mata yang menitik di sana, di sudut mata Belle. Kali ini air mata kebahagiaan yang tak tertawar cantiknya. Zach terdiam sejenak, memberi waktu pada Belle untuk menikmati luapan emosinya.
            “Kenapa diam?”, Tanya Belle.
“Kau tertawa sampai mengeluarkan air mata. Aku tahu kau sangat senang bertemu dengan orang sekeren aku hingga tak dapat membendung emosimu sendiri.”, jawab Zach dengan cuek.
“Kau ini apa-apaan. Orang baru sudah berani sok keren di depanku. Kau belum tahu seperti apa aku sebenarnya”, kilah Belle dengan masih terkekeh kecil.
“Kau yakin?!”. Zach yang semula sedang menatap ke depan spontan dengan mimik serius memutar kepalanya 180 derajat ke kiri. Pandangan mereka bertemu lagi. Tapi Belle lebih bisa menguasai gerak-geriknya kali ini.
“Oke, kau ini konyol orangnya. Dari tadi aku aku memperhatikanmu dan aku membandingkan kau dengan anak-anak kecil di hadapan kita, ah kalian sama-sama lucu”.
Belle melanjutkan tawanya yang sempat terpotong karena harus menjawab pertanyaan Zach. Alih-alih ikut tertawa, Zach justru semakin mempertegas mimik seriusnya dan itu membuat tawa Belle semakin lama semakin terdengar garing.
Belle mengerti. Ia menyandarkan tubuhnya dengan rileks ke sandaran kursi, memejamkan mata, menarik nafas dalam, dan menghembuskannya dengan berat. Ia membuka matanya lagi dan balik menatap Zach dengan raut santai.
“Aku ingin mengenalkanmu pada seseorang. Tapi aku tak tahu, aku bisa melakukannya atau tidak”. Ada sesuatu yang terdengar menggantung dari nada bicara Belle, dan pupil matanya yang sedari tadi memuai kini kembali menyusut.
Zach mengedipkan matanya sebagai dukungan bagi Belle untuk melanjutkan kata-katanya. 
Belle tersenyum. “Namanya Adam. Dia adalah kakak laki-lakiku satu-satunya. Dan kau, Zach. Betapa aku ingin memanggilmu ‘Adam’”.
Maka dimulailah cerita Belle tentang kakaknya, Adam. Satu-satunya kakak yang dobel fungsi sebagai sahabat bagi Belle setelah kematian ibunya dan kejenuhan Belle terhadap ayahnya. Belle tidak mengerti mengapa ia bisa seterbuka itu pada Zach, tapi toh ia tak menyesalinya, kalimat demi kalimat itu meluncur begitu saja dan ia sadar telah mengatakannya.
Belle yang tadi terlibat dalam komunikasi emosional beraroma manis tentang kenangan masa kecil dan hal-hal positif yang melingkarinya, kini merasa dihempaskan ke ubin yang keras saat ia harus membuka ceritanya mengenai kepahitan hidupnya. Benar-benar turning point yang menguras emosi, batinnya.
Belle merasa baik-baik saja setelah menceritakan semua itu pada Zach. Dia bahkan tak pernah berniat berkunjung ke psikolog atau terapis, tapi pada Zach ia merasa tersihir habis-habisan. Ada dua rasa berlawanan yang menyelimuti perasaan Belle saat menatap Zach yang ia banding-bandingkan dengan Adam. Perasaan senang dan muak beradu jadi satu.
‘Biarlah, aku menikmatinya. Tak ada gunanya pilih-pilih emosi. Tuhan sudah terlalu baik hati mengirimiku Adam dalam versi berbeda’, ucapnya dalam hati. Kali ini ia tak takut lagi kecolongan isi pikiran oleh Zach.
Belle memilih merdeka. Memilih untuk menikmati kedua rasa itu secara adil.

“Terimakasih, Zach”..
Tak habis-habisnya Belle menggumamkan kalimat itu berulang kali usai pertemuannya dengan Zach kala itu. Di rumah, di kampus, di kerumunan, di kesendirian, di semua tempat dan situasi. Ajaib! Hari-harinya berubah riang, sudah sangat jarang menangis dan mengumpat dalam hati. Bahkan mimpi-mimpi buruk itu tak pernah lagi menghampiri tidurnya, berganti dengan mimpi-mimpi indah.
Tapi Belle tetaplah Belle yang emosinya masih kerap pasang-surut. Ada kalanya ia merasa high end dan low end. Menikmati kehadiran Zach yang ia asosiasikan dengan Adam, berarti pula ia harus menerima konsekuensinya akan pilihan untuk ‘Merdeka’.
Sejak pertemuan pertama di taman itu, Belle memang lama tak bertemu Zach kembali. Bahkan saat ia berkunjung ke sana lagi sekedar untuk melampiaskan rasa rindunya pada Zach (bukan lagi mencari tempat melamun), Zach justru tidak datang.
Belle merasa bodoh saat itu tak bertukar alamat dengan Zach. Ia terlalu bahagia. Satu-satunya benda yang mampu mengobati kerinduan Belle pada Zach adalah topi bowler warna merah hati milik Zach yang Zach letakkan di atas kepala Belle setelah sebelumnya ia membuat onar dengan mengacak-acak rambut Belle. Senyum mafhum Zach masih terasa hangat di ingatan Belle saat topi itu diletakkan di atas kepalanya.
Hari berganti hari hingga menginjak hari ke 13 sejak pertemuan pertama mereka. Kerinduan Belle terhadap Zach sudah tak terbendung lagi. Ia rindu akan gaya cerita Zach yang memukau, pada gaya tengil Zach saat memeragakan akting seorang bintang film papan atas, pada sorot matanya tajam dan berbinar-binar saat berbicara, dan pada banyak hal lainnya. Sifat dan pembawaan Zach benar-benar mirip dengan Adam, kakak yang dengan teganya meninggalkan Belle dengan cara bunuh diri, padahal sebelum itu Adam sama sekali tak terlihat memiliki masalah apa-apa.
Tanpa ada firasat apa-apa, Belle yang hari ini kembali menikmati bacaan fiksinya di taman yang sama seperti saat ia bertemu dengan Zach, kaget setengah mati saat di sampingnya mendadak terdengar sebuah suara berat bersenandung dengan nada fals. Ah, suara si tengil, pikirnya. Belle menoleh dan dugaannya memang tidak salah. Dia tidak seperti manusia pada umumnya. Datangnya tak pernah diketahui.
Belle mengembangkan hidung dan menggigit bibir bawahnya pertanda geregetan dan kaget yang bercampur jadi satu. Zach yang merasa diperhatikan, dengan gaya cueknya, menirukan gaya bos berupa duduk dengan kaki kanan ditumpangkan diatas kaki kiri, tangan kiri terjulur di atas sandaran kursi dan sesekali bersiul-siul. Merasa tak diperhatikan, Belle pura-pura kesal. Ditendangnya kaki kiri Zach. Masih dengan gaya cuek, Zach memelorotkan sedikit  kaca mata hitamnya, melirik Belle kemudian menaikannya lagi dan kembali bersiul-siul. Itulah pertemuan kedua mereka, di tempat yang sama. Dan lagi, tawa yang sama kembali membahana saat mereka memulai konversasi.  Belle merasa hari-harinya benar-benar baru!.
Sejak dua kali pertemuan itu, mereka semakin akrab dan kerap menghabiskan waktu bersama. Tak hanya di taman. Hampir semua tempat favorit Belle mereka kunjungi. Tak jarang beberapa kali Zach datang ke rumah Belle dan Belle menyambutnya dengan suka hati.
Zach tak pernah menyebut alamat tinggalnya dan kemunculannya pun selalu tiba-tiba.  Hanya nomor telepon yang Zach tinggalkan. Kapan Belle membutuhkan  Zach, ia tinggal menghubunginnya dan Zach segera datang. Zach memang misterius namun itu tak Belle permasalahkan.
Di luar pemahaman Belle, beberapa pasang mata mulai  intens memperhatikannya saat ia bersama Zach. Tak terkecuali Maria, pembantunya yang kerap menyaksikan kedatangan Zach ke rumah. Belle tidak peduli. Ia pikir orang-orang hanya heran melihat Belle kini memiliki sahabat.
Belle merasa baik-baik saja dan kebersamaannya dengan Zach kini telah menginjak bulan ke lima. Semua terasa sempurna hingga pada suatu sore, seorang teman perempuan mendatangi Belle yang kala itu sedang bersantai di kamar, menikmati hujan dari balik jendela seraya menghisap sebatang rokok.
Belle cuek menanggapi kedatangan perempuan itu kendati mereka pernah bersahabat karena Belle benar-benar peduli pada Zach saja. Sesuai perkiraan Belle, perempuan itu datang untuk berbasa-basi menanyakan  kabarnya, seperti kebanyakan orang yang kadang berkunjung ke rumahnya. Otak Belle benar-benar terprogram untuk mengabaikan orang lain dan menganggap semua orang  itu sama seperti pikirannya selama ini, melapisi muka dengan topeng tebal dan hobi saling tikam. Ia tak mampu lagi membedakan  mana hitam mana putih, dan tentu hal itu tidak berlaku pada Zach.
Perempuan  itu akhirnya menanyakan sosok yang sering dibawa Belle kemana-mana. Belle  mengerutkan kening saat perempuan itu bertanya, “Maaf, apa kau tak apa saat di tempat umum berbicara seorang diri atau kau sedang ikut pelatian teater?”
Pertanyaan itu sontak menaikkan denyut nadi Belle. Bagaimana mungkin seseorang bisa tak mengakui keberadaan Zach?!. Dia gila!, murka Belle seraya berusaha menampilkan emosi yang datar.
“Apa maksudmu bertanya seperti itu?”, Belle membalikkan pertanyaan dengan nada dingin.
Dan dimulailah dialog menegangkan antara Belle dengan perempuan itu. Percaakapan yang semula berjalan mulus berubah menjadi sengit. Belle tidak tahu maksud perempuan itu mencampuri urusannya. Paling tidak jika ia merasa benar dan Belle salah, akan lebih fair untuk ikut campur,pikir Belle.
Percakapan yang cukup membuat Belle merasa diberi label ‘gangguan jiwa’ itu berakhir dengan teriakan usiran dari Belle saat si perempuan mengajak Belle memeriksakan  kondisi kejiwaannya.
‘Konyol sekali, aku dinggap tidak waras dan Zach hanya halusinasiku saja. Tidak tahu sopan santun!’, rutuk Belle dalam hati saat si perempuan pergi.
Setelah hari pertengkarannya tersebut, Belle menjadi sedikit pemurung lagi. Ia berusaha tidak memikirkan hal itu lagi tapi tk mampu. Zach pun sejak saat itu belum  pernah mengunjunginya kembali, saat  ditelepon tak diangkat. Belle menjadi frustasi. Takut jika apa yang dikatakan perempuan itu benar. Mimpi-mimpi buruk menemuinya lagi
2 minggu kemudian, perempuan  itu datang lagi. Kali ini ia tidak sediri tetapi bersama satu orang laki-laki yang dikenal Belle sebagai temannya dan 2 orang laki-laki lain berseragam putih-putih khas orang medis. Di belakang orang-orang itu, perlahan  menyembul  wajah Maria dengan raut ketakutan. Belle melotot tajam.
“Maaf non, saya tadi sudah melarang mereka masuk, tapi mereka memaksa”, aku Maria dengan kaki gemetar.
Belle beralih menatap tajam pada si perempuan.
“Apa yang membuatmu tergoda untuk kembali membuat onar di rumahku? Setan jenis apa kau hingga dengan lancangnya membawa orang-orangmu ke sini?!”.  Gigi Belle bergemelatuk saat mengucapkanya.
“Aku adalah orang yang diperintahkan ayahmu untuk mengawasimu. Segala kebiasaanmu  kulaporkan padanya  dan saat ia tahu kau seperti ini, ia langsung meemerintahku untuk membawamu ke ahli jiwa. Aku tidak semerta-merta melakukannya, butuh waktu berbulan-bulan untuk mengawasi gerak-gerikmu. Aku hanya  menjalankan amanat”, jawab perempuan itu. Dingin.
“Kalau begitu, kenapa bukan dia saja yang kemari untuk menyeretku ke rumah sakit jiwa?!”.
Amarah Belle berkecamuk. Matanya basah. Ada perasaan benci, merasa tidak dihargai oleh ayahnya. Saat seperti ini pun ayahnya lebih mementingkan pekerjaannya ketimbang Belle. 
Tanpa menyahut apa-apa lagi, si  perempuan memerintahkan 2 orang berseragam medis menyeret Belle. Belle meronta. Berteriak meminta tolong  pada Maria, tapi apalah daya  perempuan paruh baya itu melawan 2 orang laki-laki dewasa.
Perhelatan sore itu menyisakan perih yang nanar di hati Belle. Ia akhirnya pasrah saat dimasukkan ke dalam mobil bertuliskan  ‘Rumah Sakit Jiwa Bangli’. Matanya yang sembab masih sempat menatap pintu gerbang rumahnya. Di mana Zach?!

Belle membuka matanya perlahan. Yang  ia dapati pertama kali adalah ruang sempit berukuran 2x3  dengan sebuah meja-kursi, sebuah almari kecil, dan seperangkat alat tidur  yang masih dikenakannya. Dengan memegangi kepalanya yang  pening, Belle mencoba duduk. Mengingat-ingat hal apa yang terjadi semalam  dan mencari tahu di tempat mana kiranyaia sekarang.
Sejenak terdiam, Belle akhirnya paham situasi. Ya, dia dijebloskan ke Rumah Sakit Jiwa. Ia kembali memejamkan mata, mencoba untuk tidak memikirkan  apa-apa lagi.
Hari-hari yang  sulit harus dilalui Belle seorang diri. Tidak ada Maria, tidak ada gadget, tidak ada batangan rokok, tidak ada taman favorit, dan tentu saja tidak ada Zach. Batang hidung laki-laki itu sama sekali tak terlihat di mata Belle selama di rumah sakit.
1 bulan berlalu. Lambat laun Belle mulai mempercayai bahwa dirinya sendiri gila dan Zach hanyalah halusinasinya yang kelewat rindu pada sosok kakaknya. Hal itu dikuatkan dengan hadirnya seorang terapis dan injeksi beruntun yang diterimanya hampir setiap hari. Absennya Zach membuat Belle semakin frustasi. Ia pikir, jika benar dirinya gila dan sosok  Zach tidak pernah ada maka tak ada yang lebih baik kecuali ‘menjadi gila’ selamanya.
Belle melilitkan seutas tambang di langit-langit kamar membentuk sebuah simpul menggantung yang biasadilihatnya pada tayangan televisi tentang ‘akhir usia seorang pesakitan’. Ia cukup terampil membuatnya karena ingatannya akan episode kematian kakaknya masih membekas di ingatan.
Dengan gemetar ia memasukkan kepalanya ke ujung simpul yang ia buat. Sekali  dua kali ia mngurungkan niatnya, ada bayang ketakutan  dimatanya. Air matanya mengalir lagi. Puas menangis, tekadnya untuk bunuh diri membulat. Ia memasukkan kepalanya perlahan seraya memejam dan dengan kuat menendang kursi penyangg tubuhnya.
Belle merasakan sensasi sakit tak terperi. Lehernya yang terjerat sontak membuat tangan dan kakinya kejang. Pada detik-detik terakhir hayatnya, dengan lidah menjulur dan mata melotot ia tak sengaja menyaksikan sosok Zach duduk di atas atas ranjang, terdiam dan menatapnya kosong..
END
                                                                    Yogyakarta, 08 Juni 2015. 01.02 WIB

Minggu, 31 Mei 2015

orang-orang sibuk dalam keakuan yg panjang..
sibuk mewartakan banyolan..
..dan aku sibuk menjadi 'orang-orang'

Senin, 13 April 2015

bulir asa

Bodohlah bersamaku
Memakilah bersamaku
Berdosalah bersamaku
Setelah semua itu..

Dewasalah bersamaku~

Kamis, 09 April 2015

selamat malam, cantik..

Kamu cantik, tapi kalau hatimu tidak berhenti mengumpat kecantikanmu akan useless begitu saja..

Bukan salahmu untuk kecewa dengan beberapa scene dalam hidupmu, kamu hanya perlu jujur pada dirimu sendiri, mengamini kelebihanmu, membudi dayakan kekuranganmu dan menghargai perlakuan orang lain yg barangkali belum sesuai dgn yg kamu harapkan..

Tersenyumlah dgn tulus karena itu adalah modal termurah yg bisa kamu investasikan pada kehidupan dan biarkan keajaiban bekerja :)

Senin, 09 Desember 2013

INDONESIA HARUS BANGUN KARAKTER BANGSA

Pembangunan karakter bangsa bertujuan untuk membina dan mengembangkan karakter warga negara sehingga mampu mewujudkan masyarakat yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, berkemanusiaan yang adil dan beradab, berjiwa persatuan Indonesia, berjiwa kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, serta berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Karakter bangsa adalah kualitas perilaku kolektif kebangsaan yang khas baik yang tecermin dalam kesadaran, pemahaman, rasa, karsa, dan perilaku berbangsa dan bernegara sebagai hasil olah pikir, olah hati, olah rasa dan karsa, serta olah raga seseorang atau sekelompok orang. Pembangunan Karakter Bangsa adalah upaya kolektif-sistemik suatu negara kebangsaan untuk mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang sesuai dengan dasar dan ideologi, konstitusi, haluan negara, serta potensi kolektifnya dalam konteks kehidupan nasional, regional, dan global yang berkeadaban untuk membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, patriotik, dinamis, berbudaya, dan berorientasi Ipteks berdasarkan Pancasila dan dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Karakter yang berlandaskan falsafah Pancasila artinya setiap aspek karakter harus dijiwai ke lima sila Pancasila secara utuh dan komprehensif yang dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.       Bangsa yang Ber-Ketuhanan Yang Maha Esa
Karakter Ber-Ketuhanan Yang Maha Esa seseorang tercermin antara lain hormat dan bekerja sama antara pemeluk agama dan penganut kepercayaan, saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya itu; tidak memaksakan agama dan kepercayaannya kepada orang lain.
2.       Bangsa yang Menjunjung Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Karakter kemanusiaan seseorang tercermin antara lain dalam pengakuan atas persamaan derajat,hak, dan kewajiban; saling mencintai; tenggang rasa; tidak semena-mena; terhadap orang lain; gemar melakukan kegiatan kemanusiaan; menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
3.       Bangsa yang Mengedepankan Persatuan dan Kesatuan Bangsa
Komitmen dan sikap yang selalu mengutamakan persatuan dan kesatuan
Indonesia di atas kepentingan pribadi, kelompok, dan golongan merupakan
karakteristik pribadi bangsa Indonesia. Karakter kebangsaan seseorang tecermin dalam sikap menempatkan persatuan, kesatuan, kepentingan, dan keselamatan bangsa di atas kepentingan pribadi atau golongan; rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara.
4.       Bangsa yang Demokratis dan Menjunjung Tinggi Hukum dan Hak Asasi Manusia
Karakter kerakyatan seseorang tecermin dalam perilaku yang mengutamakan kepentingan masyarakat dan negara; tidak memaksakan kehendak kepada orang lain; mengutamakan musyawarah untuk mufakat dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
5.       Bangsa yang Mengedepankan Keadilan dan Kesejahteraan
Karakter berkeadilan sosial seseorang tecermin antara lain dalam perbuatan yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
MEMBANGUN KARAKTER adalah suatu proses atau usaha yang dilakukan untuk membina, memperbaiki dan atau membentuk tabiat, watak, sifat kejiwaan, akhlak (budi pekerti), insan manusia (masyarakat) sehingga menunjukkan perangai dan tingkah laku yang baik berdasarkan nilai-nilai Pancasila.

Ciri-ciri karakter bangsa Indonesia
  1. Saling menghormati & saling menghargai
  2. Rasa kebersamaan & tolong menolong
  3. Rasa persatuan dan kesatuan sebagai suatu bangsa
  4. Rasa peduli dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa & bernegara
  5. Adanya moral, akhlak yang dilandasi oleh nilai-nilai agama
  6. Adanya perilaku dalam sifat-sifat kejiwaan yang saling menghormati & saling menguntungkan
  7. Adanya kelakuan dan tingkah laku yang senantiasa menggambarkan nilai-nilai agama, nilai-nilai hukum dan nilai-nilai budaya
  8. Sikap dan perilaku yang menggambarkan nilai-nilai kebangsaan.
Nilai-nilai yang membangun bangsa Indonesia
  1. Nilai Kejuangan
  2. Nilai Semangat
  3. Nilai Kebersamaan / Gotong royong
  4. Nilai Kepedulian / Solidaritas
  5. Nilai Sopan santun
  6. Nilai Persatuan & Kesatuan
  7. Nilai Kekeluargaan
  8. Nilai Tanggung Jawab
Faktor-faktor dalam membangun karakter bangsa Indonesia
  1. Ideologi
  2. Politik
  3. Ekonomi
  4. Sosial Budaya
  5. Agama
  6. Normatif ( Hukum &Peraturan Perundangan )
  7. Pendidikan
  8. Lingkungan
  9. Kepemimpinan

Total Tayangan Halaman